Prodi KPI– Dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) IAIN Parepare, Sulvinajayanti, menggagas Program Tudang Mattennung: Merajut Kembali Pengetahuan Motif Lipa’ Sabbe di Kabupaten Wajo sebagai upaya mendokumentasikan dan merevitalisasi dua belas motif kanonik Lipa’ Sabbe melalui pendekatan komunikasi budaya. Program tersebut merupakan penerima Dana Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026 dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX, Kementerian Kebudayaan.
Puncak rangkaian kegiatan dilaksanakan melalui Workshop Literasi Motif dan Mini Pameran Lipa’ Sabbe di Aula UPTD SMP Negeri 1 Sabbangparu, Kabupaten Wajo, Senin (13/7/2026). Workshop dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wajo, Alamsyah, serta dihadiri Koordinator Wilayah Kecamatan Sabbangparu, Gusman, perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX Sulawesi Selatan, dan puluhan guru SD dan SMP dari berbagai kecamatan di Kabupaten Wajo.
Kegiatan ini menunjukkan bagaimana keilmuan Komunikasi dan Penyiaran Islam, khususnya dalam bidang komunikasi strategis dan hubungan masyarakat (public relations), diimplementasikan dalam pelestarian warisan budaya takbenda. Berangkat dari kepakaran tersebut, hasil penelitian mengenai motif-motif Lipa’ Sabbe tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi diterjemahkan ke dalam berbagai media komunikasi edukatif, seperti booklet, katalog motif, modul pembelajaran, media visual, serta QR Code yang menghubungkan peserta dengan sumber informasi digital. Pendekatan ini menempatkan komunikasi tidak sekadar sebagai sarana penyebaran informasi, melainkan sebagai strategi membangun literasi budaya, memperkuat identitas lokal, serta meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap Lipa’ Sabbe sebagai warisan budaya Wajo. Berbagai media tersebut dirancang agar pengetahuan mengenai motif Lipa’ Sabbe lebih mudah diakses, dipahami, dan dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran di sekolah maupun oleh masyarakat luas.

Sebagai penanggung jawab sekaligus narasumber utama, Sulvinajayanti memaparkan hasil dokumentasi dua belas motif kanonik Lipa’ Sabbe beserta kajian semiotikanya. Materi yang disampaikan merupakan pengembangan dari riset yang telah dipublikasikan dalam buku Lipa’ Sabbe Sengkang: Sutera Sengkang dalam Perspektif Semiotika (2020). Dalam pemaparannya, ia menjelaskan makna simbolik setiap motif, filosofi budaya Bugis, serta konsep kosmologi Sulapa’ Eppa’ yang menjadi landasan nilai dalam tradisi masyarakat Bugis.
Menurutnya, komunikasi memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi informasi.
“Dalam konteks budaya, keberlanjutan berarti memastikan pengetahuan lokal tetap hidup, dikenali, didokumentasikan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Komunikasi menjadi jembatan agar warisan budaya tidak hanya tersimpan dalam ingatan, tetapi juga dipahami, dipelajari, dan dimanfaatkan sebagai identitas bersama,” ujar Sulvinajayanti.
Workshop juga menghadirkan Muhammad Taufiq Hidayat, perajin sutra dari CV Arni Kurnia, yang membagikan pengalaman mengenai proses produksi tenun sutra, perkembangan industri Lipa’ Sabbe, serta tantangan pelestarian motif tradisional di era modern. Kolaborasi antara akademisi dan pelaku industri memberikan perspektif yang utuh kepada peserta mengenai hubungan antara nilai budaya, proses kreatif, dan keberlanjutan ekonomi masyarakat penenun.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wajo, Alamsyah, mengapresiasi kontribusi akademisi IAIN Parepare dalam mendokumentasikan pengetahuan budaya yang selama ini belum banyak dikenalkan secara sistematis di lingkungan sekolah. Ia menilai hasil penelitian tersebut dapat menjadi sumber belajar yang memperkuat pendidikan berbasis budaya lokal sekaligus menumbuhkan kebanggaan generasi muda terhadap identitas daerahnya.

Program ini menjadi wujud implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang dijalankan dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Parepare. Melalui perpaduan antara riset, komunikasi strategis, dan pengabdian kepada masyarakat, hasil penelitian tidak hanya menghasilkan luaran akademik, tetapi juga diolah menjadi media literasi yang mampu menjembatani pengetahuan ilmiah dengan kebutuhan masyarakat. Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana disiplin ilmu komunikasi berkontribusi dalam mendokumentasikan, mengemas, dan mendiseminasikan warisan budaya sehingga tetap hidup, relevan, serta menjadi bagian dari identitas kolektif masyarakat.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, pelaku budaya, dan dunia pendidikan, Program Tudang Mattennung diharapkan menjadi model pengabdian masyarakat berbasis riset yang memperkuat literasi budaya lokal sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 11.4, yaitu memperkuat upaya pelindungan dan pelestarian warisan budaya dunia.