Skip ke Konten

Saksi Menjaga Identitas Kaluppini, Akademisi IAIN Parepare Hadir dalam Rangkaian Akhir Festival

9 Agustus 2026 oleh
Saksi Menjaga Identitas Kaluppini, Akademisi IAIN Parepare Hadir dalam Rangkaian Akhir Festival
Admin KPI

Prodi KPI---Medan jalan yang menanjak dan meliuk tak menyurutkan antusiasme para akademisi IAIN Parepare untuk menjejakkan kaki di Tanah Kaluppini, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Pada Ahad (09/08/2026), kehadiran jajaran dosen ini menjadi saksi dari pungkasan Festival Budaya Kaluppini. Sebuah perhelatan tradisi yang konsisten merawat denyut kearifan lokal masyarakat adat setempat.

Penyelenggaraan festival yang berlangsung sepanjang 3 hingga 9 Agustus 2026 ini menampilkan secara lengkap ragam peradaban lokal: ritual adat yang sakral, pameran kuliner tradisional, pertunjukan seni budaya, hingga arena lomba permainan rakyat.

Bagi Guru Besar di Prodi Komunikasi & Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Ushuluddin, Adab & Dakwah IAIN Parepare, Prof. Dr. Iskandar, perhelatan budaya ini menyimpan makna filosofis yang mendalam melebihi sekadar atraksi pariwisata.

“Festival Budaya Kaluppini adalah warisan leluhur yang harus dijaga dan dilestarikan, bukan hanya sekadar dipertontonkan, tetapi dihidupkan. Tradisi ini mempertemukan masa lalu dengan masa kini, merekatkan persaudaraan dengan sesamanya, dan mengajarkan generasi muda untuk mengenal akar sejarahnya. Melestarikan tradisi berarti menjaga identitas, kearifan lokal, dan karakter masyarakat,” ujarnya.

Kesan mendalam mengenai otentisitas festival juga dirasakan langsung oleh Dr. Sulvinajayanti, dosen KPI IAIN Parepare. Menurutnya, Kaluppini menyajikan pengalaman budaya yang sangat hangat dan dekat dengan denyut keseharian warga.

“Kami melihat bagaimana proses memasak dilakukan secara alami menggunakan kayu bakar dan rempah-rempah yang berasal langsung dari alam. Makanan disajikan dengan cara yang sederhana, menggunakan batok buah bila dan daun jati sebagai alas, lalu dinikmati bersama dalam suasana penuh kebersamaan,” paparnya.

Dr. Sulvinajayanti menekankan pentingnya ruang bagi generasi muda untuk mengalami langsung prosesi adat agar pewarisan budaya tidak berhenti pada cerita atau dokumen tertulis semata.

“Keterlibatan generasi muda menjadi penting karena pewarisan budaya tidak cukup hanya melalui cerita atau dokumentasi. Budaya perlu dialami agar dipahami, dipraktikkan agar melekat, dan diberi ruang agar tetap relevan bagi generasi berikutnya. Kaluppini memperlihatkan bahwa ketika adat, masyarakat, dan generasi muda berjalan bersama, budaya tidak menjadi sesuatu yang hanya dikenang, tetapi tetap menjadi bagian dari kehidupan,” tambahnya.

Hal senada diungkapkan S. Dinar Annisa, asal Samarinda Kalimantan Timur yang terangkat jadi dosen KPI IAIN Parepare. Ia mengaku baru pertama kali mengikuti langsung kegiatan kebudayaan Kaluppini. Ia merasakan kuatnya nilai komunikasi dan solidaritas sosial warga lokal. "Sebagai generasi muda, saya merasa penting untuk mengenal dan terlibat langsung. Dari sini kita belajar bahwa budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dijaga dan diteruskan," ungkap Dinar.

Di panggung pertunjukan, kekayaan sastra lisan Kaluppini turut mengetuk ruang batin para pengunjung. Dosen Bahasa Indonesia Fakultas Ushuluddin, Adab & Dakwah IAIN Parepare, Sri Rahayu Andira, mengaku terpukau saat menyaksikan tutur lisan kembali bergema di atas panggung.

“Saya selalu terpukau melihat sastra lisan hidup kembali di panggung budaya. Ia bukan sekadar tuturan, melainkan suara leluhur yang menolak untuk hilang, menjaga ingatan, merawat identitas, dan menghidupkan akar budaya melalui kata. Saya seperti kembali mendengar suara almarhum kakek dan nenek yang dahulu melantunkan syair untuk cucu-cucunya di ayunan,” tutur Sri Rahayu penuh haru.

Dalam acara penutupan, Bupati Enrekang, Muhammad Yusuf Ritangnga, menyampaikan pesan emosional di hadapan para tokoh adat, pemuda, dan seluruh warga yang memadati area festival.

“Hari ini mungkin lampu-lampu sebentar malam di lapangan ini tidak menyala lagi, tetapi satu yang pasti. Hari ini kita berkumpul hanya menutup festival, tetapi adat budaya dan tradisi Kaluppini akan hidup di rumah-rumah kita, akan hidup di setiap hati masyarakat,” tegas Bupati Yusuf Ritangnga.

Padamnya lampu lapangan penutupan festival menandai berulangnya janji masyarakat Enrekang, selama kearifan dialami dan dipraktikkan bersama, tradisi Kaluppini tak akan pernah redup tergerus zaman. (Hyn)

di dalam Berita KPI
Saksi Menjaga Identitas Kaluppini, Akademisi IAIN Parepare Hadir dalam Rangkaian Akhir Festival
Admin KPI 9 Agustus 2026
Share post ini
Arsip